Ibu Berdaya Keluarga Berjaya

Belajar Keterampilan Mendengar

Mendengar aktif merupakan modal dasar bagi terjalinya relasi yang baik dengan siapapun kita berkomunikasi dan berelasi. Dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, iklim relasi dan hubungan yang tercipata akan terasa nyaman, rileks dan aman, baik dalam keluarga, tempat kerja maupun pergaulan dimanapun kita berada.

Melalui kemampuan dan keterampilan mendengar aktif kita pun akan mendapatkan informasi apa yang kita inginkan dari lawan bicara dengan cara hangat, luwes, dan tidak membuat orang lain merasa kurang nyaman. Apalagi merasa tidak nyaman karena terpaksa melakukan apa yang kita inginkan dari mereka.

Beberapa kiat untuk menjadi pendengar aktif dalam berkomunikasi, yaitu:

• Memusatkan perhatian pada lawan bicara dan isi pembicaraannya.
• Menunggu lawan bicara selesai mengutarakan maksudnya dengan menunda kecenderungan kita menginterupsi.
• Sesekali lakukan kontak mata dengan tulus dengan lawan bicara.
• Berikan reaksi yang wajar dan relevan dengan isi pembicaraan lawan bicara kita.

Melalui keterampilan mendengar aktif, kita akan mengetahui saat dan cara yang tepat untuk menyampaikan apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan kepada lawan bicara. Peningkatan kualitas dan penajaman keterampilan mendengar, dapat dilatih dengan orang dilingkungan kiat. Rumah adalah salah satu tempat yang paling mudah untuk berlatih, dengan cara mengajak seluruh anggota keluarga membuat kesepakatan mencoba saling mendengarkan satu sama lain. Sebesar mungkin hindari tindak interupsi atau memberi respons/reaksi langsung terhadap apa yang diutarakan anggota keluarga.

Salah satu cara paling efektif untuk menahan diri melakukan interupsi adalah memberi jeda waktu tertentu sebelum memberi respons. Ingat kembali tujuan kita mendengarkan, untuk menenangkan lawan bicara dan kita dari rasa ketakutan, dan pikirkanlah kembali apa yang telah dibicarakan sebelumnya. Dengan menunda respons, kita akan terhindar dari interupsi terhadap lawan bicara, dan dengan sendirinya kita pun akan terhindar dari kemungkinan memberi jawaban dengan cepat dan menjadi ‘sang pemberi solusi jitu’. Situasi yang berangsur menjadi tenang seperti ini menjadi sangat penting, apalagi jika kita sedang dalam keadaan ketegangan emosi berlanjut.

Kemudian lakukan langkah berikutnya yaitu dengan mencoba merefleksikan kembali ungkapan yang diutarakan lawan bicara. Contohnya, ” Jadi menurut yang saya tangkap dari pembicaraan ini, kamu merasa ………. karena diperlakukan ….. Menurut kamu, seperti…… ya?”

Dalam upaya merefleksikan ungkapan yang diutarakan kita tidak hendak menginterpretasi atau menyetujui apa yang dikatakan lawan bicara, melainkan melakukan pengecekan terhadap realitas yang kita hadapi, apakah kita memang benar-benar memahami dan mengerti isi pembicaraan lawan bicara?

Bila kita merasa ragu akan apa yang kita tangkap tentang isi pembicaraan lawan bicara, jangan segan bertanya karena dengan demikian kita akan lebih memahami isi pernyataannya. Pertanyaan yang kita ajukan pun akan menunda kecenderungan melakukan interupsi dan memberi perlawanan/argumentasi yang berlawanan dengan isi pembicaraan saat itu.

Untuk benar-benar memahami apa yang dikatakan lawan bicara, kita harus sungguh-sungguh dan berupaya keras melakukan introspeksi dan penghargaan tulus. Karena penghargaan yang palsu dapat dirasakan oleh lawan bicara. Penghargaan palsu timbul ketika kita seakan-akan mengerti topik pembicaraan, padahal ternyata didalam diri kita sendiri juga terjadi kerancuan dalam pola pikir dan sudut pandang tentang sesuatu hal yang sedang terjadi di sekitar? Mengapa bisa rancu? Pada saat yang bersamaan sebenarnya kita juga sedang mengalami kerancuan dan gejolak dalam benak diri sendiri. Sehingga timbul pikiran negatif yang membuat kita sulit untuk menghadapi dan menerima perbedaan pendapat dengan lawan bicara.

Tanpa kita sadari banyak di antara kita memiliki kecenderungan untuk egosentris dan berpikir bahwa cara pandang kitalah yang paling benar atau kita memiliki kecenderungan menolak pendapat orang lain dengan melakukan pertimbangan yang tidak/kurang adil. Untuk itu, kita harus mampu memberi tantangan pada diri sendiri bahwa fokus pembicaraan saat itu adalah lawan bicara, bukan diri kita sendiri. Bukan cerita atau pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami sebelumnya. Karena terkadang dalam situasi yang bersamaan banyak unfinished bussiness dalam diri yang tiba-tiba keluar, dan tanpa sadar fokus pada proses mendengarkan berbalik tertuju pada kita, kita yang minta untuk didengar.

Coba, sekali diam dan dengarkan…
Dengarkan satu kalimat curahan hatiku
Jangan mendengarkan kalau sempat
Karena aku bukan manusia sesaat
Aku manusia seutuhnya
Yang ingin didengar
Yang ingin dihargai
Dengan sepenuh hati