Ibu Berdaya Keluarga Berjaya

Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga

Sampai saat ini orang berhubungan dengan orang lain melalui berbagai alat komunikasi sampai keseluruh dunia. Upaya untuk berkomunikasi secara elektronik dan digital membuatkan sistem hubungan begitu canggih. Dimana setiap orang, termasuk orangtua, pasangan bisa berhubungan antara satu dengan lainnya dengan mudah. Situasi tersebut sepertinya tidak asing lagi saat ini mereka akhirnya tanpa disadari membangun dunia sendiri yang terpisah dari orang lain bahkan anggota keluarganya sendiri.

Disisi lain dalam kepadatan arus informasi yang serba superfisial (hanya sebatas permukaan) dan sempitnya “waktu bersama”, membuat hubungan antara orangtua – anak, suami – istri semakin berjarak dan semu. Artinya, hal-hal yang diutarakan dan dikomunikasikan adalah topik umum selayaknya ngobrol dengan orang-orang lainnya. Akibatnya, masing-masing pihak makin sulit mencapai tingkat pemahaman yang dalam dan benar terhadap apa yang dialami, dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan dan dirindukan satu sama lain. Dalam pola hubungan komunikasi seperti ini, tidak heran jika ada orang tua yang kaget melihat anaknya tiba-tiba menunjukkan sikap aneh, seperti tidak mau makan, sulit tidur (insomnia), murung atau prestasinya meluncur drastis. Orang tua merasa selama ini anaknya seperti “tidak ada apa-apa” dan biasa saja. Lebih parah lagi, mereka menyalahkan anak, menyalahkan pihak lain, entah pihak sekolah, guru, atau malah saling menyalahkan antara ayah dengan ibu, akhirnya berpengaruh pula hubungan antara suami dan istri.

Komunikasi keluarga menjadi “barang mahal dan barang langka” karena masing-masing sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaannya masing-masing. Akhirnya, komunikasi yang tercipta di dalam keluarga, adalah komunikasi yang sifatnya informatif. Misalnya, pemberitahuan agenda kerja ayah hari ini, rapat di kantor, janji bertemu orang, harus presentasi, atau mungkin membicarakan mengenai teman yang punya pekerjaan baru, situasi politik, kenaikan harga dan sebagainya. Sementara ibu membicarakan tentang teman kerja di kantor, rencana bisnis ibu, rencana masak memasak, pertemuan arisan, acara televisi baru, atau membicarakan tentang anak teman ibu yang punya masalah. Anak – anak, punya dunianya sendiri yang sarat dengan keanekaragaman pengalaman dan cerita-cerita seru dan heboh yang beredar di kalangan teman-teman mereka.

Seringkali kita sebagai peran ibu/bapak atau sebagai suami atau istri lupa, bahwa setiap masalah adalah hasil dari sebuah interaksi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Setiap orang, punya kontribusi dalam mendorong munculnya masalah, termasuk masalah pada anak-anak atau antara suami dan istri. Berbagai masalah muncul dari masalah komunikasi.

Komunikasi terjadi apabila terdapat stimulus yang dikeluarkan dari sesuatu hal dan mendapat respon dari pihak yang diberi stimulus. Respon yang akan terjadi tergantung bagaimana stimulus itu diberikan. Apabila stimulus diberikan secara baik dan tepat maka respon yang didapat mungkin akan serupa. Masalah yang sering muncul sebagian akibat jenis stimulus yang kita berikan. Komunikasi juga melibatkan berbagai indra yang kita miliki, mulai dari intonasi suara, peraba kulit atau sentuhan, bahasa tubuh atau gestur, tatapan mata dan lain lain. Apalagi ditambah dengan berbagai perlatan dan teknologi, hal ini memperbanyak cara berkomunikasi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu perlu kita refleksikan, bagaimana stimulus yang kita berikan kepada orang lain selama ini, mana yang lebih banyak, positif atau negatif.

Apabila komunikasi berjalan baik dan positif dalam keluarga, maka akan membentuk suatu keluarga yang memiliki hubungan yang sehat. Keberhasilan menjalin komunikasi secara baik mensyaratkan berbagai keterampilan, tidak hanya keterampilan mengungkapkan isi hati dan pikiran, tetapi juga keterampilan untuk mendengarkan orang lain secara baik. Perubahan besar yang positif dalam komunikasipun besar pengaruhnya dalam aspek perkembangan psikologis anak-anak karena dapat mentransfer nilai nilai yang ingin ditanamkan pada anak.

“Kesuksesan hidup dimulai dari kesuksesan dalam berkomunikasi”